Bahkan secangkir kopi panas belum cukup untuk menghilangkan dingin di tubuhku. Hujan yang sedari tadi pagi mengguyur kota Jakarta inilah yang menyebabkan itu. Langit terus-menerus diselimuti awan yang sangat gelap, matahari tidak muncul seakan-akan menjadikan hari kemarin hari terakhir kita melihatnya.
Aku tidak pernah membenci hujan. Bahkan, aku menyukainya. Seperti hujan pada malam hari, yang selalu membantu kita menghilangkan lelah, serta gerah setelah sepanjang hari terus bermandikan sinar matahari. Udara yang dingin, memanjakan kita untuk segera beranjak ke tempat tidur dan beristirahat.
Seusai hujan, hidung kita dimanjakan aroma tanah bercampur air hujan, sinar matahari yang perlahan muncul dari awan gelap dan terkadang akan diikuti dengan indahnya pelangi. Satu hal lagi tentang hujan yang selalu aku sukai. Setiap kali aku memandang hujan, ia selalu memaksaku untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Tapi selain itu, sebenarnya apa yang membuat aku sangat menyukai hujan?
Sambil terus mengaduk kopi panasku, aku memandang ke arah jendela kafe ini, yang merupakan kafe favorit kita. Seperti yang kubilang tadi, hujan membangkitkan kenangan masa lalu. Perlahan, pikiranku dipaksa mengawang, pengelihatanku memudar, dan...
---
"Hei, kok bengong aja?" Tanya perempuan di depanku, pengelihatanku masih pudar, belum pulih sempurna.
Aku terkejut, bagaimana bisa seseorang bisa tiba-tiba muncul tepat di depanku, padahal tadi kursi itu kosong?
"Hei, jawab dong!" Paksa perempuan itu, yang perlahan mulai jelas
Aku lalu terdiam setelah wajah tersebut dapat terlihat dengan jelas. Wajah yang pernah aku kenal. Wajah yang tidak pernah aku lupakan. Iya, perempuan yang tiba-tiba bertanya kepadaku tadi adalah kamu. Tunggu, bagaimana bisa kamu ada disini? Aku sangat yakin dari pertama aku masuk kafe ini, aku sendiri.
Kamu mengernyitkan dahi, menunggu jawaban dariku.
"Jawab? Jawab apa" Aku hanya menjawab sebisaku, karena aku tidak tahu apa yang kamu tanyakan
"Iya, gimana post kamu di blogmu yang kemarin kamu kasih liat ke aku? Aku penasaran banget lanjutan ceritanya, cepetan di posting dong!" Lanjutmu dengan mata berbinar
Aku masih terdiam, masih tidak tahu apa yang terjadi dengan ku. "Eh.. I, Iya nanti aku kasih tau kalau udah di post." aku menjawab dengan jawaban yang aman, diikuti dengan anggukanmu.
Aku melihat keadaan sekelilingku, yang masih terasa aneh. Aku melihat ke arah pelayan kafe yang nampak memakai baju berbeda saat aku memesan kopi panasku. Celana bahan dan baju kemeja putih yang tadi aku lihat, sekarang berganti menjadi celana jeans ditambah kemeja kotak-kotak. Bagaimana bisa mereka mengganti bajunya secepat ini? batinku. Dan bagaimana bisa, kamu tepat ada di depanku?
Aku mengalihkan pandangan kepadamu yang saat itu mengenakan dress ungu yang tampak begitu serasi dengan kulit putihmu. Tunggu. Postingan di blogku? Aku merasa aku pernah mengalami ini. Ya, pertanyaanmu tentang blogku! Wajahku semakin memucat, bibirku terasa kering. Benar, aku pernah mengalami ini. Tapi itu sudah 2 tahun yang lalu.
Keringatku mengucur deras. Tanganku gemetar. Aku melihat kearah jendela dan mendapati langit yang cerah, jalanan kering yang menandakan tidak ada hujan hari ini, berbeda dengan yang tadi. Bagaimana bisa aku terlambat menyadari hal seperti itu? Hujan. Hujan benar-benar membawaku ke masa lalu.
"Hei, lusa bisa temenin aku ke toko buku ngga? Ada novel yang baru keluar nih, aku mau beli !" Ajakmu, membuyarkan kepanikanku.
"Eh? Emm, gimana ya.."
Aku sungguh tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan. Karena aku tidak tahu berapa lama aku akan berada pada masa ini.
"Ayo dong... aku sendiri kok yang bayar. Janji deh!" Sambil memajukan kelingkingmu, kamu tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan selama 2 tahun ini.
Sambil mengaitkan jariku ke jarimu aku menjawab "Iya. Nanti aku temenin." Kamu dan aku lalu tersenyum.
Hujan membawaku ke masa lalu. Dan hujan, membangkitkan kenanganku bersamamu.
Setelah melihat senyummu, aku tidak peduli hal apa yang sedang terjadi padaku, aku tidak peduli berada di tahun berapa. Aku hanya ingin bersamamu. Karena 2 tahun setelah ini, aku akan kehilanganmu.
Kita kembali bercakap. Aku menanyakan kuliahmu yang sebentar lagi selesai, dan kamu juga menanyakan tentang kerjaanku yang selalu meliput kesana kemari, tetapi masih bisa menemanimu. Dan tanpa aku tanya, kamu tiba-tiba bercerita tentangmu yang selalu suka akan hujan. Kamu sangat bersemangat, sampai aku tidak bisa memotong omonganmu. Aku hanya bisa mendengarkan apa yang kamu katakan.
Percakapan kita dihentikan dengan bunyi petir yang sangat keras. Diluar sana, entah sejak kapan awan hitam mulai menyelimuti langit cerah. Dan bersamaan dengan hal itu, pengelihatanku kembali memudar, kepalaku pening. Aku berteriak kencang, meminta tolong.
---
Akhirnya berhenti. Aku kembali duduk di bangku kafe yang dari entah kapan aku datangi. Dan kali ini, kembali tanpa kehadiranmu. Apakah aku sudah kembali ? Aku kembali melihat sekelilingku. Diluar tetap hujan. Kali ini aku melihat ke dalam kafe dan mendapati kalender yang bertuliskan tahun 2013. Aku belum kembali. Ini masih satu tahun sebelum masaku.
Tapi, ingatan apa kali ini? Aku kembali melihat kalender, tanggal 25 November. Oh, aku ingat. Ini satu minggu setelah kamu meninggalkanku. Di hari ini, aku akan bertemu denganmu dan...
Belum sempat aku mengingatnya, pintu depan kafe terbuka dan terlihat sosokmu. Kamu datang dengan senyum, lalu melihat kesana-kemari mencari kursi kosong untuk tempatmu duduk. Saat mencari, kamu menemukan diriku. Senyum di bibirmu hilang, tubuhmu gemetar. Lalu kamu memalingkan wajahmu dan langsung menuju kursi yang kosong.
Kamu duduk, dan tidak lama kemudian seorang laki-laki datang menghampiri dirimu. Kalian berdua sama-sama tersenyum, dan terlibat dalam perbincangan serius. Di kafe itu kamu melihatku, tapi tidak menyapaku. Seolah-olah, kita ini tidak pernah saling mengenal.
Tanganku serasa ditetesi sesuatu. Air? Ternyata bukan, melainkan air mataku. Aku menangis, bahkan tanpa kusadari. Aku menundukan wajahku, mencoba menyembunyikan air mataku dari siapapun yang berada di kafe malam itu. Lalu...
---
"Mas, jangan tidur disini mas." Ucap seseorang sambil menggoyangkan tubuhku.
Ternyata aku dibangunkan oleh seorang pelayan yang mengenakan celana bahan dan kemeja putih. Sambil mengedipkan mata, batinku berkata Aku sudah kembali.
"Sudah berapa jam mas saya tertidur?"
"Hampir 2 jam mas. 1 jam lagi kami tutup." Jawaban itu disertai anggukan dari ku.
Diluar masih hujan, tapi tidak sederas tadi. Aku yakin, tadi aku bukan bermimpi. Karena aku masih bisa mengingat, dan merasakan apa yang baru saja terjadi. Kejadian yang aneh bukan?
Setidaknya kejadian itu bisa mengingatkanku, mengapa aku menyukai hujan. Mungkin, alasannya itu kamu. Kamu yang mengenalkanku pada hujan. Dan di kafe ini, ditemani kopi panas ku yang sudah dingin, aku berharap kamu kembali muncul dari pintu depan kafe ini. Tetapi, tanpa disertai laki-laki sesudahnya.
Tapi aku tahu, aku tidak bisa kembali ke masa lalu, dan merubahnya. Aku hanya bisa menerima kenyataan pahit bahwa kau kini tidak lagi bersamaku. Kenyataan pahit bahwa kita, tidak akan pernah lagi bersama.
Walau begitu, aku senang karena hujan membangkitkan kenangan indah bersamamu.
Tertanda,
Seseorang yang pernah kamu kenal


0 comments:
Post a Comment