Wednesday, August 6, 2014

Dua orang yang dilanda kebingungan

"Perasaan itu gabisa dipaksa kan?"

Pertanyaan yang diucap perempuan itu bercampur dengan riuhnya suasana tahun baru malam itu. Perempuan itu meletakkan gagang telepon di daun telinganya sambil melihat ke arah luar jendela kamarnya. Dari sana yang terlihat hanya bunga api. Sebenarnya, malam itu sangat indah. Kau bisa melihat awan di antara gelapnya malam. Tapi indah itu disapu oleh terangnya sinar bunga api, membuat hal yang indah itu tidak terlihat. 

Pertanyaan itu ia tanyakan kepada seorang lelaki di ujung telepon. Perempuan itu ingin menceritakan masalahnya kepada lelaki itu. Ia ingin sebuah saran, ia butuh teman bercerita. Karena beberapa hari belakangan ini perempuan itu dilanda kecemasan, kebingungan, dan ketidak pastian.

Beberapa hari lalu, salah satu teman lelakinya mengucap kata sayang kepadanya. Sedangkan perempuan itu, tidak sama sekali mempunyai rasa yang sama, dan menolak untuk menjawab dengan kata-kata yang serupa. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu, tapi jawaban dari perempuan itu membuat lelaki itu mengancam hal yang mengerikan karena ia mendapat jawaban yang tidak diinginkannya dari perempuan itu. Lalu lelaki itu bertanya sekali lagi pada perempuan itu, dan perempuan itu tidak menjawabnya.

Perempuan itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya, perempuan itu tidak bisa mengendalikan situasi yang dihadapinya.

Perempuan yang memiliki mata indah itu masih menunggu jawaban dari teman lelakinya. Matanya menuju ke arah datangnya bunga api. Ia melihatnya, tapi tidak melihatnya. Matanya kosong. Perlahan, dari mata indah perempuan itu diteteskannya airmata. Dahinya berkerut, hidungnya kembang kempis, dan tangannya memeluk erat boneka panda yang sudah basah dijatuhi air matanya.

---

Lelaki itu sedang berada dalam keramaian, tapi sungguh, ia tidak suka keramaian. Beberapa temannya datang untuk merayakan pergantian tahun di rumahnya. Dengan bermodalkan alat musik yang berdawai, mereka sukses membuat suara yang lebih bising dibandingkan bunga api yang menari di atas mereka. Lelaki itu tidak ikut bersuara, hanya tersenyum menikmati suasana yang sedang dialaminya. Lalu handphone samsung miliknya bergetar dan menuliskan nama seorang perempuan.

"Perasaan itu gabisa dipaksa kan?" 

Perempuan yang menghubunginya tidak mengucapkan kata sapa atau sekedar menanyakan kabar, hanya menanyakan pertanyaan itu. Lelaki itu terdiam. Mencoba mencermati maksud perempuan itu bertanya seperti itu di saat seperti ini.

Lalu pesan yang membingungkan itu dilanjut pesan berikutnya yang menjelaskan semuanya. Jadi, menurut lelaki itu masalahnya hanya satu: Perempuan itu takut menyampaikan perasaan sebenarnya, dan perempuan itu terus menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang tidak ia perbuat.

"Kalo emang itu perasaan lo sama dia, ya lo ungkapin lah." Jawab lelaki itu, tegas. "Karena percuma sebuah hubungan tercipta dari satu sisi yang benar sayang, dan satu sisi yang berpura-pura. Tidak akan ada rasa cinta. Hanya ditipu dan berbohong."

Lelaki itu percaya jika cinta itu memang kejam. Bukan cinta namanya jika tidak ada salah satu pihak yang disakiti. Bukan jatuh cinta namanya jika terus terbang melayang, tanpa pernah terjatuh.

Lelaki itu meninggalkan teman-temannya bernyanyi di teras rumahnya. Ia melangkahkan kaki ke kamarnya dan menenggelamkan tubuhnya di kasur miliknya. Lelaki itu sudah sering menjadi sasaran curhat perempuan itu. Walau begitu hal tersebut tidak pernah mengganggunya. Justru dia selalu memperhatikan dengan baik apa yang dikatakan perempuan itu, dan mencarikan jalan terbaik untuknya. 

---

Perempuan itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak bisa berteriak, hanya menangis dalam ramai. 

"Lo cuma terlalu takut. Ini bukan salah lo, berhenti nyalahin diri sendiri." kata lelaki itu.

Tapi tetap, perempuan itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Sebenarnya dia tipe perempuan yang ceria, tipe yang jika tertawa, suaranya bisa terdengar sampai lantai dua rumahnya. Dan juga perempuan itu memiliki senyum yang manis. Mata indahnya juga ikut tersenyum kala ia tersenyum. Dengan tubuh mungil dan rambut hitam sepunggung, sepertinya ia tipe yang mudah membuat orang terpikat. Sebenarnya temannya itu juga pernah berkata sayang sebelumnya. Tapi saat itu, perempuan itu sedang bersama orang lain.

"Tapi dia udah sayang sama gue setahun yang lalu. Dan dia bilang, setahun itu bukan waktu yang lama."

Kata perempuan itu diucapkannya dengan nada sendu. Perempuan itu sulit untuk jatuh cinta. Jadi untuknya, satu tahun itu waktu yang lama untuk dihabiskan menunggu seseorang. Dia tidak pernah menunggu seseorang selama itu. Meski sulit untuk jatuh cinta, ia tidak mengharapkan seseorang yang istimewa, tidak mengharapkan seseorang yang sempurna. Perempuan itu yakin, tidak ada orang yang seperti itu. Manusia sesempurna itu hanya pernah ia temui di novel-novel romance yang pernah ia baca.

---

"Ini sudah larut malam. Gue tutup ya teleponnya."

Perempuan itu mematikan sambungan komunikasi di antara mereka, masih dengan suara tangis. Percakapan mereka terjadi selama dua jam. Ini salah satu percakapan di telepon terlama yang pernah lelaki itu lakukan. Dari teman-temannya masih bernyanyi, sampai hanya sisa makanan dari mereka yang bersisa di teras rumahnya. Dan meski sudah selama itu, perempuan itu tidak juga mengerti, tidak juga menemukan jawabannya.

Lelaki itu menghembuskan napas panjang dan mengedipkan beberapa kali kelopak matanya sambil menggelengkan kepala. Ia bingung, kenapa bisa serumit ini. Diantara ratusan kata dari percakapan panjang mereka, lelaki itu teringat salah satu kalimat yang perempuan itu ucapkan. 

"Tapi dia udah sayang sama gue setahun yang lalu. Dan dia bilang, setahun itu bukan waktu yang lama."

Waktu yang lama? Mungkin Perempuan itu serta temannya bisa merasa satu tahun itu waktu yang lama, tapi tidak dengan dia. Bertolak belakang dengan perempuan tadi yang sulit untuk jatuh cinta, lelaki itu sangat mudah jatuh cinta. Tapi entahlah bisa disebut jatuh cinta atau tidak. Mungkin lebih tepat untuk dibilang hanya sekedar suka. 

Lelaki itu memang mudah suka kepada orang lain, tetapi ketika dia benar-benar jatuh cinta kepada orang lain, dia benar-benar cinta dan akan terus menunggu orang itu. Walaupun sebenarnya lelaki itu bingung, penantian itu bentuk dari kesetiaan, atau hanya keputusasaan?

Jika memang satu tahun adalah waktu yang lama, bagaimana jika ada seseorang yang menunggu lebih lama daripada itu?

Lalu bagaimana dengan lelaki ini yang sudah memendam rasa kepada perempuan itu selama hampir empat tahun?

0 comments:

Post a Comment