Aku sangat menyukai laut di kala senja. Duduk di pasir pantai yang putih, melihat ke arah cakrawala dan menikmati warna senja yang indah. Ditemani semilir angin sore, aku menunggu pergantian waktu dari sore ke malam.
Hari sudah gelap, matahari sudah berganti bulan. Aku masih di tepi laut, duduk di pantai sambil ditemani api unggun tanpa merasa takut ombak akan membawaku pergi. Pikiranku mengawang. Suasana ini, membawaku kembali mengingat masa lalu, awal cerita pada saat laut ini menjadi tempat favoritku.
3 tahun yang lalu pada saat musim panas usai ujian nasional, aku pergi bersama teman-temanku untuk berlibur di suatu tempat. Tapi ada perdebatan kecil. Aku ingin ke gunung, sedangkan dia, ingin ke laut. Tapi aku harus mengalah, aku memang lemah dalam urusan berdebat, apalagi berdebat dengannya.
Kami berdua sudah bertemu sejak SMP, dan sejak SMP kelas 2 sampai sekarang, aku memendam perasaan kepada dia. Sudah lama ingin aku katakan, tapi aku tidak bisa. Di saat ulang tahunnya saat kelas 2 SMA kemarin pun, aku hanya menghadiahinya sebuah tulisan di blogger ku. Dan aku pikir, aku akan mengutarakan perasaan ku kepada dia pada saat ini, karena kupikir ini adalah saat yang tepat.
Kami pergi berlibur hanya sekedar untuk melepas penat, mencari udara segar setelah selama 3 tahun kami belajar. Makanya, kami pergi berlibur ke tempat yang bertemakan alam. Kami bernyanyi, kami menari, kami tertawa sambil mengelilingi api unggun yang kami buat. Meskipun aku tidak terlalu menyukai laut, tetapi aku puas. Aku puas bisa melihatnya tertawa begitu lepas, dan aku hanya bisa mengeluarkan senyum kecil pada saat melihatnya.
Aku dan teman-temanku hanya membawa 1 tenda yang ternyata tidak cukup untuk menampung kami semua. Kami semua 6 orang, sedangkan tenda tersebut hanya cukup untuk 4 orang. Jadi, kami harus bergantian untuk berjaga di luar. Dan 2 orang pertama adalah aku dan dia.
Aku senang bukan main. Akhirnya tiba saatnya untuk aku mengutarakan perasaanku kepada dia. Tapi sebelum aku dapat berbicara kepadanya, dia menyapaku duluan.
"Bintangnya banyak ya, jarang-jarang bisa ngeliat kayak gini." katanya sambil menunjuk bintang di langit.
"Iyalah, kan daerahnya kayak gini. Kalo di kota mah ngga bakal bisa, soalnya kena light pollution." Kataku dengan sotoynya.
"Light pollution? Apaan tuh?"
"Jadi lu ngga bisa liat bintang karena terlalu banyak cahaya dari gedung atau billboard gitu kalo gasalah."
Dia mengangguk kecil, lalu matanya mengarah kepadaku, dan dia berkata "Bulan depan, gue harus ke singapura buat kuliah. Soalnya mesti ikut ayah gue kerja."
Selama sesaat aku terdiam, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Ohh gitu... jadi gabisa ketemu lagi dong kita."
"Bisa kok. Asal lo harus janji untuk terus nunggu gue di tempat ini, dan gue juga janji gue bakal ke sini setiap libur musim panas, dan kita bakal ketemu lagi buat ngeliat bintang di tempat ini. Janji?" Katanya sambil tersenyum dan mengajukan jari kelingkingnya.
"Janji. Gue bakal nunggu lo di laut ini. Gue bakal nunggu dari senja, dan saat lo datang nanti, kita bakal ngeliat bintang lagi sama-sama."
Aku dan dia tersenyum. Aku tidak jadi mengutarakan perasaanku. Tapi aku punya ikatan dengan dia. Aku punya janji dengan dia, janji sebagai teman.
Aku terbangun, sepertinya aku tertidur selama beberapa saat. Aku melihat jam dan waktu menunjukan pukul 8 malam.
Di kejauhan, aku melihat siluet seseorang. Dan saat dia mendekat, kami sama-sama tersenyum.
"Maaf terlambat." Kata dia.
Maaf ya kalo jelek dan berantakan, soalnya lagi kurang inspirasi si hehe... Oiya, makasih buat temen gua yang udah kasih 3 kata yang setelahnya gue jadiin cerita. Jangan lupa comment ya, dan terima kasih sudah membaca!


0 comments:
Post a Comment