Tuesday, May 6, 2014

A letter from a wild



Pemikiran manusia selalu maju, visioner. Teknologi yang mereka buat selalu bertambah canggih, seakan kita melihat rancangan masa depan. Dan pada umumnya, karena pemikiran manusia disertai dengan kemajuan teknologi, sebuah negara akan bertambah maju, gedung-gedung pencakar langit milik perusahaan terkenal semakin banyak, semakin meluas. Tujuan mereka simpel, memajukan perusahaan, memajukan negara, memajukan produk dengan segala cara. Termasuk mengotori alam.

Gunung yang tadinya hijau, dikeruk terus menerus. Pepohonan, hutan yang indah berubah menjadi padang pasir yang menyimpan duka. Di kota, hampir tidak ada lagi ruang hijau terbuka. Manusia terlalu memikirkan bagaimana mereka bisa membuat negeri mereka maju, dengan terus membangun gedung-gedung tinggi dengan cara menebang hutan. Mereka melupakan kami, para binatang. Rumah kami di rampas.

Mereka tidak memikirkan perasaan kami. Mereka hanya memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri. Gunung tempat kami bermain, dipenuhi dengan kendaraan dan alat-alat berat untuk mengeruk tanah di gunung tersebut. Ada ribuan saudara kami disana. Mereka kehilangan rumah, mereka kehilangan tempat tinggal mereka, mereka tidak punya tempat tinggal lagi. 

Padahal alam, hutan, dan pohon merupakan sumber kehidupan manusia. Tanpa alam, mereka bukan apa-apa. Mereka sudah mengambil daging saudara-saudara kami untuk mereka makan, mereka mengambil bagian dari pepohonan untuk pengobatan mereka. Kami telah memberi mereka semuanya, kami telah memberikan harapan hidup untuk mereka. Tapi apa balasan mereka untuk kami?

Kami hanya ingin rumah kami terus mereka jaga, kami ingin spesies kami terus ada, kami ingin terus mereka mengakui keberadaan kami, dengan begitu kami juga rela memberikan daging kami, anggota tubuh kami, kami rela berkorban untuk mereka. Tetapi kenyataannya?

Rumah kami mereka tebang, saudara kami terus mereka buru, mereka bunuh dengan sadis hanya untuk menjual bagian tubuh kami. Ketenangan kami mereka ganggu. Keindahan bawah laut mereka ledakkan, saudara kami dilaut mereka racuni.

Jadi jika ada seekor harimau mengunjungi pedesaan karena habitatnya dihancurkan, dan membunuh seorang manusia, kami akan tanya : Siapa yang sebenarnya lebih kejam? Siapa sebenarnya lebih sadis? Siapa yang sebenarnya menganggu ketenangan makhluk lain? Manusia memang tidak mempunyai taring yang tajam, manusia mungkin tidak memiliki cakar, manusia tidak seperti kami, bertindak hanya melalui naluri. Tapi dengan melihat apa yang telah mereka lakukan, kami akan bertanya sekali lagi. Siapa yang lebih kejam? Kami, para binatang, atau kalian, para manusia?


Meskipun post ini ceritanya gue binatang, tapi gue bukan binatang ya hehe... terima kasih sudah membaca dan jangan lupa comment ya !

0 comments:

Post a Comment