Saturday, May 31, 2014

Here I Come, England



"Pernah gak, lo nemuin cinta pertama lo, terus lo pengen banget bisa ketemu dia secara langsung gimanapun caranya itu?" Tanyaku kepada Abdul sambil mengaduk segelas cokelat panas.

"Maksud lo?" Jawab Abdul yang juga sambil mengaduk minuman miliknya. "Ohh, tentang rencana lo yang pergi ke london itu?" lanjutnya.

"Iya dul. Menurut lo gimana?" tanyaku kembali. "Gue sih uangnya udah ada. Cuma tinggal nyari penginapan gitu. Lo ada ngga, kenalan di London?"

"Lo mungkin agak gila sih. Pergi ke London cuma pengen ketemu cinta pertama lo yang gajelas gitu? Gila, cerita FTV aja kalah sama kisah lo." Jawabnya dengan nada agak tinggi

"Ya namanya juga cinta, dul. Udahlah, lo ada kenalan ngga disana?" Lanjutku agak kesal.

Lalu Abdul memberiku beberapa nomor. Dua-duanya merupakan bekas rekan kerja Abdul yang menetap di London. Yang pertama, seorang lelaki. Yang kedua, seorang wanita. Aku memilih yang kedua, karena ia ternyata seorang jurnalis di London. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya itu tindakan yang tepat. Setidaknya bagiku, ini pilihan yang aman. Aku menelepon perempuan itu, mengatur janji dengannya dan tempat mana saja yang akan aku kunjungin nantinya.

Satu persatu baju aku lipat rapi sebelum dimasukkan ke koper. Memisahkan antara baju yang akan dibawa, dan ditinggal di Indonesia. Setelah selesai, aku menutup resleting koper, dan menguncinya dengan kunci kombinasi. Semuanya sudah siap, pikirku. Paspor, tiket, semuanya sudah kuatur rapi di meja. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Mencoba mengingat awal mula aku bersikeras untuk pergi ke London. 

Aku bertemu dengan dia sekitar 3 tahun lalu. Cinta pada pandangan pertama. Dari mata, lalu turun ke hati. Tapi dia amat sangat jauh dari tempatku. Kami terpisah 2 benua. Dan selama 3 tahun ini, aku mencoba melakukan segalanya untuk bertemu dengannya. Ternyata memang benar kalau cinta itu bisa datang kapan saja, dan dengan siapa saja. Demi dia, aku berani pergi ke belahan dunia lain. Demi cinta, orang bisa berbuat sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Aku terus bermain dengan khayalanku, mencoba mengingat masa lalu. Dan tanpa sadar, aku menutup mataku dan mulai terlelap.

Aku terbangun dari tidurku. Jam menunjukan pukul 4 pagi. Aku terbangun di waktu yang tepat. Jam 7 pagi, aku sudah harus berada di bandara, menunggu pesawat jurusan London. Aku mengambil handuk dan bersiap mandi. Air mandi pukul 4 pagi sangat cukup untuk membuatku mengigil yang kurasa pas untuk memulai hari ini. I'm too excited. Kaus biru bergambar Captain America yang kupakai terlihat sangat rapi di kaca kamarku. Sambil mengambil koper aku mengucap, Here I come, England.


---


Heathrow Airport. Akhirnya, sampai juga. Inggris, negara yang dari dulu ingin aku datangi. Aku terpesona melihat kota ini di televisi. Sambil menontonnya, aku kadang bergumam ingin pergi kesana suatu hari nanti. Akhirnya, aku menginjakan kaki di negeri impianku. Sebuah mimpi yang akan menjadi kenyataan. Aku mengawali sebuah kisah, yang pasti akan menjadi indah nantinya. 

Sudah terbayang megahnya Big Ben, besarnya London Eye dan bangunan unik nan bersejarah milik Inggris lainnya. Sambil berkhayal, aku mencari Naya, teman kerja Abdul yang nantinya akan menemaniku berkeliling kota London selama seminggu ini. 

"Lo Tyo kan?" Ucap sebuah suara, memanggil namaku.

Aku mengalihkan pandanganku, dan menemukan perempuan bertubuh lumayan kecil dengan wajah oriental Indonesia. "Iya. Lo Naya? Temennya si Abdul?"

"Iya. Salam kenal, ya. Jadi lo mau langsung ke hotel atau keliling-keliling dulu?" Tawarnya

Aku melirik jam tangan milikku, dan menjawab "Keliling dulu aja deh. Sekalian ke tempat itu. Tau kan?"

"Ohh, tau kok. Yaudah yuk"

Tempat yang akan kutuju adalah tempat antara aku dan dia akan bertemu. Sambil mendengarkan Naya menjelaskan tentang kegiatan di London yang selalu ramai, aku memandang keluar jendela mobil dan menikmati setiap bangunan khas Britania yang kami lewati. Tak lama kemudian, sebuah roda besar terlihat di luar sana. London Eye. Salah satu yang terkenal di kota London. Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya lebih dekat. Juga melihat Buckingham Palace, Bigben. Aku tidak sabar untuk melihat semuanya.

"Nih, udah sampai. Mau turun ga?" Naya membuyarkan lamunanku.

"Boleh. Sekalian mau liat-liat."

Hornsey Rd, London N7 7AJ, United Kingdom. 

Disitu, aku melihat dia. Dia yang selama ini aku cari. Dan akhirnya, di tempat ini kita bisa bertemu. Tepatnya di Emirates Stadium. Aku bertemu cinta pertamaku, Arsenal FC. 

Dan semoga, semua ceritaku ini bisa membawaku kesana.




This Blog Post is entry for #InggrisGratis Mr. Potato

2 comments:

  1. jiahahaaahahaha
    ane kira 'Dia" itu cewek, ternyata eh ternyata :D :D

    sip deh
    smoga impian Ente ke Inggris bisa kesampean bhro
    amin

    ReplyDelete