Saturday, May 17, 2014

" Meet "



Kata orang, setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan.

Aku mengenal dia sebenarnya sudah lama. Tapi aku memendam perasaan kepadanya, jauh lebih lama. Sampai pada saat itu, satu-satunya hal yang pernah aku berikan ke dia. Sebuah tulisan, sebuah "surat" untuk dirinya yang sedang berulang tahun. Dari situ, aku baru benar-benar mengenal dia. Kami saling mengenal satu sama lain. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari. Dan aku, sangat menikmati saat-saatku bersama dia.

Musim panas 2 tahun lalu, aku ingin mengutarakan perasaanku kepadanya. Ingin melantunkan sebuah perkataan jujur, yang selama ini harus aku pendam. Tapi sebenarnya aku takut. Aku takut itu justru akan merusak "hubungan" ku dengan dia. Tapi, justru saat malam musim panas itu malah dia yang mengutarakan sesuatu. Dia, akan pindah ke Singapura. Walau begitu, kami tetap memiliki "hubungan" . Kami mempunyai janji, yang kami sebut janji musim panas.

Aku merindukannya. Aku rindu akan senyumnya. Aku rindu akan matanya yang menyipit kala dia tertawa. Aku merindukan semua hal tentang dia, termasuk hari-hariku bersama dia. Dalam sesaat, semua kembali seperti dulu lagi. Aku hanya bisa menyapanya melalui social media. Bedanya, kalau dulu  aku masih bisa melihat dirinya secara langsung, tapi sekarang tidak.

Akhirnya pada saat musim panas setahun yang lalu, aku bisa kembali tersenyum. Aku akhirnya bisa kembali melihat senyumnya, senyum dirinya yang nyata, bukan hanya sekedar foto atau apapun itu. Walau hanya sesaat, dia kembali. Kami bernostalgia. Kami membicarakan hal masa lalu bersama. Sesekali, kami tertawa. Aku ingin terus berada pada situasi seperti ini. Aku ingin terus, bersama dengan dia.

Setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan.

Hari itu, adalah hari terakhir aku melihat dia. Sudah 2 tahun belakangan ini dia menghilang. Social media, SMS, atau apapun itu tidak dapat menyambungkanku kepada dia. Janji kami, sekarang hanya tinggal janji yang mungkin tidak akan pernah bisa ditepati lagi. Aku benar-benar sendiri. Aku benar-benar kehilangan cara untuk menghubungi dia. Aku benar-benar kehilangan dia.

Kadang aku berpikir, untuk menyusulnya ke Singapura, sebelum aku sadar bahwa ternyata dana yang kupunya kurang untuk menyusul dia. Aku mencoba pasrah, mencoba melupakan segalanya tentang dia. Aku hanya berharap tidak terjadi apapun kepadanya. Dan aku berharap, di negeri seberang sana, dia masih terus memancarkan senyumnya seperti yang dia lakukan saat bersamaku.

Setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. 

Sekarang aku mengerti maksud kata-kata itu. Pertemuan tak selamanya indah. Itu hanya bersifat sementara. Diujung pertemuan, pasti selalu ada perpisahan. Perpisahan yang memutus segalanya tentang pertemuan.

Aku masih ingat betapa bahagianya aku saat aku mengenal, saat aku berbicara kepada dia. Dan sekarang aku merasakan, rasanya saat aku kehilangan dia. Aku tidak pernah mengutarakan perasaanku kepada dia. Dan itu, tak akan pernah terjadi lagi.

Setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Kalau begitu, untuk apa kita pernah bertemu?

Dan bersamaan dengan selesainya tulisan ini, aku harap aku bisa melupakan dia.

3 comments: