Saturday, April 5, 2014

Journal 1 : Arriving

Ini adalah ceritaku. Khayalan, dan mimpiku. dengan judul Journal. Aku bukan penulis yang baik, Tetapi semoga tulisan yang kubuat ini cukup untuk menghibur, dan meramaikan blogku.

Aku terbangun dari tidurku. Jam menunjukan pukul 4 pagi. Entah kenapa dan sejak kapan aku mulai terlelap di depan laptop ku yang masih menyala dengan aplikasi microsoft word yang menunjukan dokumen berjudul ‘Journal’. Tapi, aku terbangun di waktu yang tepat. Jam 7 pagi, aku sudah harus berada di bandara, menunggu pesawat jurusan London. Oh, sebelum aku bercerita terlalu banyak, mungkin sebaiknya aku mengenalkan diri dulu. Namaku Rana, tentunya kalian tak ingin tahu dan tak perlu tahu nama lengkapku. Selain itu, aku bekerja sebagai jurnalis. Jurnalis olahraga, tepatnya. Atau lebih tepatnya lagi, aku menulis tentang sepakbola.

Perlukah kuberi tahu apa alasanku menuju London? Sepertinya penulis menginginkan begitu. Aku menuju London dengan 2 alasan. Pertama, pekerjaanlah yang membawaku kesana. London, Inggris adalah tempat dimana liga sepakbola –yang katanya terbaik di dunia- berada. Aku ingin melihat, dan menulis apa yang kulihat disana. Tentu aku tidak bodoh menuju London tanpa pekerjaan dan persiapan apapun. Aku kesana karena ditawari pekerjaan oleh salah satu media olahraga di sana. Tidak terlalu terkenal, tapi kurasa cukup.

Kedua, emm aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Aku ingin menemui seseorang. Seorang perempuan. Pacarku? Tentu tidak. Aku hanya perlu bertemu dengannya, menyelesaikan masa lalu dengannya, dan sedikit berharap. Berharap tentang apa, yah mungkin kau nanti akan segera mengetahuinya.

Sarapanku hanyalah secangkir kopi susu, dan sepiring roti di salah satu lounge di Bandara International Soekarno-Hatta. Jam sudah menunjukan jam setengah 7. Yang berarti, jika tidak ada keterlambatan setengah jam lagi aku akan berangkat. Sungguh, sangat membosankan menunggu 30 menit tanpa melakukan apapun, hanya dapat menghabiskan waktu dengan bermain game di smartphone milikku.

Tepat setelah aku mengalahkan Manchester United dengan skor 2-0 di FIFA milikku, panggilan untuk menaiki pesawat akhirnya terdengar. Aku melihat jam dan waktu menunjukan pukul 7.15 . Hanya terlambat 15 menit, pikirku. Aku akan menghabiskan 12 jam di pesawat tanpa melakukan apa-apa, tentu saja batre handphoneku tidak akan cukup untuk bermain FIFA selama 12 jam. Memang, sebelumnya aku akan transit di Sydney dan Dubai, tapi tetap saja membosankan. Ada 2 pilihan. Tidur, atau menghabiskan waktu dengan menceritakan sedikit ceritaku kepada kalian. Aku akan pilih yang kedua, karena aku bukan tipe orang yang bisa tidur pada saat matahari telah menunjukan sosoknya.

Aku tentunya tidak mau berbicara tentang perempuan itu kepada kalian, jadi sepertinya aku akan menceritakan bagaimana aku memilih menjadi jurnalis dengan gaji yang tidak terlalu besar, dibandingkan dengan mendapat pekerjaan yang lebih besar gajinya. Pertama-tama, aku tidak suka hal-hal yang mewah. Aku tidak suka memegang uang banyak hanya untuk keperluanku sendiri. Dan jika aku sudah berkeluarga nanti, aku tidak ingin memiliki rumah yang mewah, hanya rumah sederhana –walaupun itu bukan keputusan yang dapat kuambil sendiri- . Aku lebih suka memilih rumah yang mewah dengan kebahagiaan. Dan lagi, jurnalis olahraga adalah hobiku. Maksudku, aku suka menulis dan aku suka melakukan, atau melihat suatu kompetisi olahraga, terutama sepakbola. Jadi jurnalis olahraga itu bagaikan hobiku yang menjadi satu. Sungguh menyenangkan bagi setiap orang, dibayar untuk melakukan hobinya sendiri. Itulah yang aku rasakan.

Aku memilih sepakbola karena aku menyukainya. Jujur, aku suka berolahraga, namun aku tidak terlalu baik dalam melakukan olahraga tersebut. Aku menyerah untuk melakukannya, maksudnya bermimpi sebagai atlet atau sebagainya, tapi aku tidak menyerah dalam dunianya. Kupikir menulis, menjadi jurnalis adalah yang terbaik untukku. Awalnya aku tidak menyukai olahraga, apalagi sepakbola. Aku bahkan membencinya. Dalam pelajaran olahraga, aku selalu menjauhi bola agar tidak dioper. Mungkin sekilas aku bagai jenius olahraga, yang berlari kesana-kesini mencari positioning yang bagus, mencari kelengahan lawan. Tapi dibalik khayalan itu, aku hanya laki-laki yang tidak memiliki keahlian apapun. Sampai ketika dia.....


Pramugari mengingatkan untuk menutup jendela, melipat meja dan menegakkan sandaran kursi. Aku tersadar dari ceritaku dan berpikir sepertinya sudah sampai. Cerita masa lalu memang selalu membuatku lupa akan waktu. Tapi berkat masa lalu aku bisa sampai disini sekarang. Menginjakkan kaki di Heathrow Airport, London. Tempat semuanya berawal, semua ceritaku selanjutnya.

0 comments:

Post a Comment